PARADIGMA
PENGAJARAN KE PEMBELAJARAN DAN PENERAPANNYA DALAM KTSP
Pengantar
Salah satu konsep yang berubah dalam
pelaksanaan KTSP yaitu berubahnya paradigm pengajaran (belajar mengajar)
menjadi konsep pembelajaran. Perubahan ini sangat penting bagi guru sebagai
pengembangan kurikulum di tingkat satuan pendidikan karena menyangkut perlakuan
(treatment) terhadap siswa. Dalam konsep pembelajaran kegiatan lebih difokuskan
kepada aktivitas siswa belajar. Tulisan ini mencoba mengungkap apa itu konsep
pembelajaran bagaimana kondisi dalam pelaksanaannya dan apa yang dapat
mendukung pelaksanaan paradigm konsep pembelajaran ini dalam setting kelas.
Konsep
pembelajaran
Pembelajaran merupakan terjemahan
dari kata “Instructional” yang digunakan sejalan dengan diterapkan kurikulum
kompetensi sebagai pengganti istilah pengajaran yang bermaksud merubah persepsi
guru dari sebagai penyampai materi menjadi membelajarkan siswa sebagimana
diungkapkan oleh Erliany (2007 : 25) istilah pembelajaran merupakan pengganti
dari istilah pengajaran atau proses “belajar mengajar”. Walupun secara konsep
tidak ada perbedaan mendasar, tetapi penggunaan kata ini dimaksudkan agar
terjadinya perubahan persepsi guru dari mengajar yang selama ini diartikan
sebagai menyampaikan materi pelajaran menjadi membelajarkan siswa, dari konsep
yang bersifat “teacher oriented” kea rah “student oriented”.
Dari pernyataan di atas jelas bahwa
pembelajaran diarahkan kepada peranan siswa sebagai subjek belajar. Selaras
dengan pendapat Sukmadinata (2004 : 149) bahwa “pembelajaran lebih diarahkan
pada kegiatan yang sengaja diciptakan guru agar siswa belajar.” Kegiatan yang
disengaja artinya pembelajaran ini sudah benar-benar disiapkan mulai dari
perencanaan sampai pelaksanaannya. Hal tersebut terungkap dari pendapat
Mcdonald (Oliva, 1992 : 10) yang beranggapan bahwa pembelajaran merupakan
ketukan yang berirama (putting) dari perencanaan menuju pelaksanaan.
“Instructional as the putting of plan into operation.”
Banyak para ahli pendidikan
memberikan pengertian tentang pembelajaran secara berbeda namun secara umum
pengertian pembelajaran bisa diartikan sebagai upaya mempersiapkan siswa agar
mampu hidup di masyarakat seperti yang diungkapkan oleh Hamalik (2008 : 25)
Pembelajaran merupakan persiapan di
masa depan, dalam hal ini masa depan kehidupan anak yang ditentukan orang tua.
Oleh karena itu, sekolah berfungsi untuk mempersiapkan mereka agar mampu hidup
dalam masyarakat yang akan datang
Jhonson dalam Oliva (1992 : 10)
mendefinisikan pembelajaran sebagai proses interaksi antara mengajar dengan
belajar. “Instructional as interaction between agent and one more individual
intending to learn.”
Proses interaksi dalam pembelajaran
tidak hanya merupakan interaksi antara mengajar dan belajar saja tetapi juga
melibatkan lingkungan disekitarnya. Seperti yang diungkapkan oleh Sanjaya (2008
: 26) pembelajaran merupakan proses kerja sama antara guru dan siswa dalam
memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada, baik gaya belajar maupun
potensi yang ada pada diri siswa seperti : minat, bakat dan kemapuan dasar yang
dimiliki termasuk gaya belajar maupun potensi yang ada diluar siswa seperti
lingkungan sarana dan sumber belajar sebagai upaya untuk mencapai tujuan
belajar tertentu.
Hal ini sehalan dengan pendapat
Hamalik (1997 : 57) bahwa secara lengkap pembelajaran merupakan kombinasi yang
tersusun meliputi unsure-unsur manusiawi, materi, fasilitas, perlengkapan dan
prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan. Dari pendapat di atas
bisa dikatakan bahwa pembelajarn merupakan proses interaksi peserta didik
dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar untuk mencapai
tujuan.
Gagne & Briggs dalam Mahpuddin
(2008 : 12) membedakan pembelajaran (Instructional) dengan pengajaran
(teaching). Pembelajaran meliputi semua peristiwa yang berlangsung berpengaruh
pada belajar, sedangkan mengajar hanya sebagai salah satu bentuk pembelajaran.
Sementara itu Sukmadinata (2004 : 149), mengungkapkan bahwa pembelajaran atau
pengajaran pada dasarnya sama yaitu merupakan kegiatan guru dosen menciptakan
situasi agar siswa belajar. Hal tersebut senada dengan pendapat Sagala dalam
Erliany (2007 : 27)
“ pembelajaran berkenaan dengan
penyediaan dan pemanfaatan kegiatan dan sumber-sumber belajar yang sengaja
diciptakan atau tercipta secara alamiah sehingga terbantu untuk mempelajari dan
menguasai kemampuan dan nilai yang baru.”
Kondisi
pembelajaran
Pencapaian tujuan pembelajaran
diperlukan suatu kondisi yang mampu memfasilitasi agar siswa terdorong untuk
aktif berpartisipasi dalam proses pembelaaran sehingga siswa terbantu untuk
mempelajari dan menguasai kemampuan dan atau nilai-nilai baru. Dalam proses
tersebut diperlukan guru yang mampu memberikan keteladanan, membangun kemauan,
dan mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Implikasi dari prinsip
ini adalah pergeseran paradigm proses pendidkan, yaitu dari paradigm pengajaran
ke paradigm pembelajaran.
Kondisi yang perlu dikembangkan dalam
proses pembelajaran menurut permendiknas No 41 tahun 2007 tentang standar
proses untuk pendidikan dasar dan menengah bahwa proses pembelajaran pada
satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai
dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik
(Depennas, 2007 : 6)
Mewujudkan kondisi pembelajaran yang
mampu mengoptimalkan tujuan pembelajaran, terutama untuk pembelajaran bidang
umum-akademis termasuk di dalamnya di SMP menurut Sukmadinata (2004 : 162)
perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Menekankan
pembelajaran yang bermakna, baik bagi diri siswa/mahasiswa saat ini, maupun
saat yang akan datang
2. Menggunakan
metode dan media yang bervariasi
3. Menggunakan
pendekatan dan metode yang menempatkan siswa/mahasiswa sebagai subyek atau
pelaku belajar
4. Memberikan
pengalaman yang kaya, baik pengalaman mendapatkan, mengolah dan mengembangkan,
mengaplikasikan pengetahuan, teori dan konsep-konsep maupun memecahkan masalah
serta menemukan dan menghasilkan hal-hal yang baru.
5. Keseimbangan
antara kegiatan pembelajaran secara klasikal, kelompok dan individual
6. Keseimbangan
antara belajar teori dengan praktik, di kelas, di luar kelas dan dilapangan
7. Memprioritaskan
suasana belajar yang atraktif, motivated, kooperatif, bersahabat
8. Kompetensi
lebih diarahkan pada kompetensi dengan dirinya sendiri, kompetensi dengan orang
lain secara sehat dan bersahabat dan tetap dalam suasana kooperatif
(sukmadinata, 2004 : 162-163)
Selanjutnya menurut Sukmadinata
(2004 : 162) pembelajaran bidang umum-akademis menekankan pada penguasaan
kompetensi akademik, yaitu kecakapan dan keterampilan mengaplikasikan konsep,
teori dan prinsip-prinsip ilmu dalam berbagai aspek kehidupan. Kompetensi ini
mencakup kecakapan mengaplikasikan kemampuan berpikir tingkat menengah dan
tinggi, yaitu aplikasi, analisis-sintesis, evaluasi, pemecahan masalah dan
kreaktivitas.
Perlunya
model pembelajaran
Upaya pencapaian kecakapan dan
keterampilan dalam pembelajaran memerlukan model dan metode pembelajaran yang
mampu mengembangkan kemampuan berpikir kognitif dan psikomotor tahap menengah
dan tinggi dan juga yang menempatkan siswa sebagai subyek belajar dengan tetap
memperhatikan tingkat perkembangan dan kemampuan siswa. Walaupun bukan berarti
metode-metode eskpositori (ceramah, Tanya jawab, dan demonstrasi) tidak
digunakan, metode-metode tersebut tetap digunakan dengan mengkombinasikan
dengan pendekatan dan model yang mengarah kepada kemampuan berpikir tingkat
menengah dan tinggi. Model dan pendekatan yang mengarah kepada berpikir tingkat
menengah dan tinggi tersebut diantaranya pembelajaran ; kontekstual mencara bermakna,
berbasis pengalaman, terpadu, kooperatif, berpikir induktif, pemerolehan
konsep, latihan inkuiri, sinektik, klarifikasi nilai, bermain peran, non
direktif, kelompok dan berbuat (sukmadinata, 2004 : 163-164)
Penutup
Perubahan paradigm dari pengajaran
ke pembelajaran menempatkan siswa sebagai subyek untuk aktif berpartisipasi
dalam proses pembelajaran sehingga siswa terbantu untuk mempelajari dan
menguasai kemampuan dan atau nilai-nilai baru. Di sisi lain konsep pembelajaran
mengarahkan siswa untuk memiliki kecakapan mengaplikasikan kemampuan berpikir
tingkat menengah dan tinggi. Dengan demikian guru harus mampu menguasai dan
memilih pendekatan, model dan metode belajar yang dituntut dalam konsep
pembelajaran sehingga bergesernya paradigm proses pendidikan, dari paradigm
pengajaran ke pembelajaran dapat terwujud.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar