ANIMASI

Kamis, 23 Oktober 2014

PARADIGMA PENGAJARAN KE PEMBELAJARAN DAN PENERAPANNYA DALAM KTSP

Pengantar
Salah satu konsep yang berubah dalam pelaksanaan KTSP yaitu berubahnya paradigm pengajaran (belajar mengajar) menjadi konsep pembelajaran. Perubahan ini sangat penting bagi guru sebagai pengembangan kurikulum di tingkat satuan pendidikan karena menyangkut perlakuan (treatment) terhadap siswa. Dalam konsep pembelajaran kegiatan lebih difokuskan kepada aktivitas siswa belajar. Tulisan ini mencoba mengungkap apa itu konsep pembelajaran bagaimana kondisi dalam pelaksanaannya dan apa yang dapat mendukung pelaksanaan paradigm konsep pembelajaran ini dalam setting kelas.
Konsep pembelajaran
Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata “Instructional” yang digunakan sejalan dengan diterapkan kurikulum kompetensi sebagai pengganti istilah pengajaran yang bermaksud merubah persepsi guru dari sebagai penyampai materi menjadi membelajarkan siswa sebagimana diungkapkan oleh Erliany (2007 : 25) istilah pembelajaran merupakan pengganti dari istilah pengajaran atau proses “belajar mengajar”. Walupun secara konsep tidak ada perbedaan mendasar, tetapi penggunaan kata ini dimaksudkan agar terjadinya perubahan persepsi guru dari mengajar yang selama ini diartikan sebagai menyampaikan materi pelajaran menjadi membelajarkan siswa, dari konsep yang bersifat “teacher oriented” kea rah “student oriented”.
Dari pernyataan di atas jelas bahwa pembelajaran diarahkan kepada peranan siswa sebagai subjek belajar. Selaras dengan pendapat Sukmadinata (2004 : 149) bahwa “pembelajaran lebih diarahkan pada kegiatan yang sengaja diciptakan guru agar siswa belajar.” Kegiatan yang disengaja artinya pembelajaran ini sudah benar-benar disiapkan mulai dari perencanaan sampai pelaksanaannya. Hal tersebut terungkap dari pendapat Mcdonald (Oliva, 1992 : 10) yang beranggapan bahwa pembelajaran merupakan ketukan yang berirama (putting) dari perencanaan menuju pelaksanaan. “Instructional as the putting of plan into operation.”
Banyak para ahli pendidikan memberikan pengertian tentang pembelajaran secara berbeda namun secara umum pengertian pembelajaran bisa diartikan sebagai upaya mempersiapkan siswa agar mampu hidup di masyarakat seperti yang diungkapkan oleh Hamalik (2008 : 25)
Pembelajaran merupakan persiapan di masa depan, dalam hal ini masa depan kehidupan anak yang ditentukan orang tua. Oleh karena itu, sekolah berfungsi untuk mempersiapkan mereka agar mampu hidup dalam masyarakat yang akan datang
Jhonson dalam Oliva (1992 : 10) mendefinisikan pembelajaran sebagai proses interaksi antara mengajar dengan belajar. “Instructional as interaction between agent and one more individual intending to learn.”
Proses interaksi dalam pembelajaran tidak hanya merupakan interaksi antara mengajar dan belajar saja tetapi juga melibatkan lingkungan disekitarnya. Seperti yang diungkapkan oleh Sanjaya (2008 : 26) pembelajaran merupakan proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada, baik gaya belajar maupun potensi yang ada pada diri siswa seperti : minat, bakat dan kemapuan dasar yang dimiliki termasuk gaya belajar maupun potensi yang ada diluar siswa seperti lingkungan sarana dan sumber belajar sebagai upaya untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
Hal ini sehalan dengan pendapat Hamalik (1997 : 57) bahwa secara lengkap pembelajaran merupakan kombinasi yang tersusun meliputi unsure-unsur manusiawi, materi, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan. Dari pendapat di atas bisa dikatakan bahwa pembelajarn merupakan proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar untuk mencapai tujuan.
Gagne & Briggs dalam Mahpuddin (2008 : 12) membedakan pembelajaran (Instructional) dengan pengajaran (teaching). Pembelajaran meliputi semua peristiwa yang berlangsung berpengaruh pada belajar, sedangkan mengajar hanya sebagai salah satu bentuk pembelajaran. Sementara itu Sukmadinata (2004 : 149), mengungkapkan bahwa pembelajaran atau pengajaran pada dasarnya sama yaitu merupakan kegiatan guru dosen menciptakan situasi agar siswa belajar. Hal tersebut senada dengan pendapat Sagala dalam Erliany (2007 : 27)
“ pembelajaran berkenaan dengan penyediaan dan pemanfaatan kegiatan dan sumber-sumber belajar yang sengaja diciptakan atau tercipta secara alamiah sehingga terbantu untuk mempelajari dan menguasai kemampuan dan nilai yang baru.”
Kondisi pembelajaran
Pencapaian tujuan pembelajaran diperlukan suatu kondisi yang mampu memfasilitasi agar siswa terdorong untuk aktif berpartisipasi dalam proses pembelaaran sehingga siswa terbantu untuk mempelajari dan menguasai kemampuan dan atau nilai-nilai baru. Dalam proses tersebut diperlukan guru yang mampu memberikan keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Implikasi dari prinsip ini adalah pergeseran paradigm proses pendidkan, yaitu dari paradigm pengajaran ke paradigm pembelajaran.
Kondisi yang perlu dikembangkan dalam proses pembelajaran menurut permendiknas No 41 tahun 2007 tentang standar proses untuk pendidikan dasar dan menengah bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik (Depennas, 2007 : 6)
Mewujudkan kondisi pembelajaran yang mampu mengoptimalkan tujuan pembelajaran, terutama untuk pembelajaran bidang umum-akademis termasuk di dalamnya di SMP menurut Sukmadinata (2004 : 162) perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1.      Menekankan pembelajaran yang bermakna, baik bagi diri siswa/mahasiswa saat ini, maupun saat yang akan datang
2.      Menggunakan metode dan media yang bervariasi
3.      Menggunakan pendekatan dan metode yang menempatkan siswa/mahasiswa sebagai subyek atau pelaku belajar
4.      Memberikan pengalaman yang kaya, baik pengalaman mendapatkan, mengolah dan mengembangkan, mengaplikasikan pengetahuan, teori dan konsep-konsep maupun memecahkan masalah serta menemukan dan menghasilkan hal-hal yang baru.
5.      Keseimbangan antara kegiatan pembelajaran secara klasikal, kelompok dan individual
6.      Keseimbangan antara belajar teori dengan praktik, di kelas, di luar kelas dan dilapangan
7.      Memprioritaskan suasana belajar yang atraktif, motivated, kooperatif, bersahabat
8.      Kompetensi lebih diarahkan pada kompetensi dengan dirinya sendiri, kompetensi dengan orang lain secara sehat dan bersahabat dan tetap dalam suasana kooperatif (sukmadinata, 2004 : 162-163)
Selanjutnya menurut Sukmadinata (2004 : 162) pembelajaran bidang umum-akademis menekankan pada penguasaan kompetensi akademik, yaitu kecakapan dan keterampilan mengaplikasikan konsep, teori dan prinsip-prinsip ilmu dalam berbagai aspek kehidupan. Kompetensi ini mencakup kecakapan mengaplikasikan kemampuan berpikir tingkat menengah dan tinggi, yaitu aplikasi, analisis-sintesis, evaluasi, pemecahan masalah dan kreaktivitas.
Perlunya model pembelajaran
Upaya pencapaian kecakapan dan keterampilan dalam pembelajaran memerlukan model dan metode pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir kognitif dan psikomotor tahap menengah dan tinggi dan juga yang menempatkan siswa sebagai subyek belajar dengan tetap memperhatikan tingkat perkembangan dan kemampuan siswa. Walaupun bukan berarti metode-metode eskpositori (ceramah, Tanya jawab, dan demonstrasi) tidak digunakan, metode-metode tersebut tetap digunakan dengan mengkombinasikan dengan pendekatan dan model yang mengarah kepada kemampuan berpikir tingkat menengah dan tinggi. Model dan pendekatan yang mengarah kepada berpikir tingkat menengah dan tinggi tersebut diantaranya pembelajaran ; kontekstual mencara bermakna, berbasis pengalaman, terpadu, kooperatif, berpikir induktif, pemerolehan konsep, latihan inkuiri, sinektik, klarifikasi nilai, bermain peran, non direktif, kelompok dan berbuat (sukmadinata, 2004 : 163-164)
Penutup

Perubahan paradigm dari pengajaran ke pembelajaran menempatkan siswa sebagai subyek untuk aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran sehingga siswa terbantu untuk mempelajari dan menguasai kemampuan dan atau nilai-nilai baru. Di sisi lain konsep pembelajaran mengarahkan siswa untuk memiliki kecakapan mengaplikasikan kemampuan berpikir tingkat menengah dan tinggi. Dengan demikian guru harus mampu menguasai dan memilih pendekatan, model dan metode belajar yang dituntut dalam konsep pembelajaran sehingga bergesernya paradigm proses pendidikan, dari paradigm pengajaran ke pembelajaran dapat terwujud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar