DAFTAR ISI
A. Pengertian
Perubahan Sosial
B. Teori-teori Perubahan Sosial
C. Hubungan antara Perubahan Sosial dan Perubahan Kebudayaan
D. Bentuk-bentuk Perubahan Sosial
B. Teori-teori Perubahan Sosial
C. Hubungan antara Perubahan Sosial dan Perubahan Kebudayaan
D. Bentuk-bentuk Perubahan Sosial
3. Perubahan yang Dikehendaki
(Intended-Change) atau Perubahan yang
Direncanakan (Planned-Change) dan Perubahan yang Tidak Dikehendaki
(Unintended-Change) atau Perubahan yang Tidak Direncanakan (Unplanned
Change)
Direncanakan (Planned-Change) dan Perubahan yang Tidak Dikehendaki
(Unintended-Change) atau Perubahan yang Tidak Direncanakan (Unplanned
Change)
F. Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Jalannya Proses Perubaha
1. Faktor-faktor yang Mendorong Jalannya Proses Perubahan
2. Faktor-faktor yang Menghalangi Terjadinya Perubahan
1. Faktor-faktor yang Mendorong Jalannya Proses Perubahan
2. Faktor-faktor yang Menghalangi Terjadinya Perubahan
I.
Modernisasi
1. Pengantar
2. Pengertian
3. Disorganisasi, Transformasi, dan Proses dalam Modernisasi
1. Pengantar
2. Pengertian
3. Disorganisasi, Transformasi, dan Proses dalam Modernisasi
BAB I
PENDAHULUAN
Setiap masyarakat manusia selama hidup pasti mengalami
perubahan-perubahan. Tidak ada sekelompok masyarakat pun yang tidak berubah.
Perubahan tersebut dapat terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, misalnya
dalam bidang politik, ekonomi, sosial, maupun perubahan yang berkaitan dengan
kebudayaan. Perubahan yang terjadi dalam bidang sosial pada suatu masyarakat
sering dikenal dengan istilah perubahan sosial.
Perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat ini dipengaruhi
oleh banyak faktor dan juga perubahannya dapat menuju kea rah yang positif
maupun menuju arah yang negatif. Dalam hal ini, berarti perubahan dapat membuat
lebih baik, namun juga sebaliknya. Tentunya perubahan sosial yang terjadi
dipengaruhi oleh berbagai faktor dan mempunyai berbagai dampak bagi kehidupan
masyarakat. Dan para ahli mempunyai pendapat yang berbeda tentang perubahan
sosial tersebut. Oleh karena itu, melalui makalah ini, kami ingin mengetahui
bagaimana perubahan sosial dan contoh perubahan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
Perubahan
Sosial dan Kebudayaan
Perubahan-perubahan
hanya akan dapat diketemukan oleh seseorang yang sempat meneliti susunan dan
kehidupan suatu masyarakat pada suatu waktu dan membandingkannya dengan susunan
dan kehidupan masyarakat tersebut pada waktu yang lampau.
Perubahan-perubahan
di dalam masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, pola-pola perilaku,
organisasi, susunan, lembaga-lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam
masyarakat, kekuasaan & wewenang, interaksi social dan sebagainya.
A. PENGERTIAN PERUBAHAN SOSIAL
Perubahan
sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu
masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya
nilai-nilai, sikap sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam
masyarakat.
Banyak
para sosiolog dan ahli-ahli lainnya yang mengemukakan tentang teori-teori
perubahan sosial dan kebudayaan:
1. William
F. Ogburn, mengemukakan ruang lingkup
perubahan-perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material
maupun immaterial, yang ditekankan adalah pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan
material terhadap unsur-unsur immaterial.
2. Kingsley
Davis, mengartikan perubahan sosial sebagai
perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.
Misalnya, timbulnya pengorganisasian buruh dalam masyarakat kapitalis telah
menyebabkan perubahan-perubahan dalam hubungan antara buruh dengan majikan dan
seterusnya menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan
politik.
3. Maclver, peruabahan-perubahan sosial dikatakannya sebagai
perubahan-perubahan dalam hubungan sosial (social relationships) atau sebagai
perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial.
4. Gillin
dan Gillin, mengatakan
perubahan-perubahan sosial sebagai variasi dari cara-cara hidup yang telah
diterima, baik karena peruabahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan
materiil, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun
penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.
5. Emile Durkheim,
perubahan sosial yang terjadi sebagai hasil dari faktor-faktor ekologis dan
demografis, yang mengubah kehidupan masyarakat dari kondisi tradisional yang
diikat solidaritas mekanistik, ke dalam kondisi masyarakat modern yang diikat
oleh solidaritas organistik.
6. Selo
Soemardjan, perubahan-perubahan
pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang
mempengaruhi system sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola
perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Tekanan pada definisi
tersebut terletak pada lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai himpunan pokok
manusia, yang kemudian memengaruhi segi-segi struktur masyarakat lainnya.
B. TEORI-TEORI PERUBAHAN SOSIAL
Para
ahli filsafat, sejarah, ekonomi dan para sosiolog telah mencoba untuk
merumuskan prinsip-prinsip atau hukum-hukum perubahan-perubahan sosial. Banyak
yang berpendapat bahwa kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan sosial
merupakan gejala wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia.
Yang
lain berpendapat bahwa perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam
unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat seperti misalnya
perubahan dalam unsur-unsur geografis, biologis, ekonomis, atau kebudayaan.
Kemudian ada pula yang berpendapat bahwa perubahan-perubahan sosial bersifat
periodik dan non periodik. Pokoknya, pendapat-pendapat tersebut pada umumnya
menyatakan bahwa perubahan merupakan lingkaran kejadian-kejadian. Pitirim A.Sorokin berpendapat bahwa
segenap usaha untuk mengemukakan bahwa ada suatu kecenderungan yang tertentu
dan tetap dalam perubahan-perubahan sosial, tidak akan berhasil baik. Dia
meragukan kebenaran akan adanya lingkaran-lingkaran perubahan sosial tersebut.
Akan tetapi perubahan-perubahan tetap ada, dan yang paling penting adalah bahwa
lingkaran terjadinya gejala-gejala sosial harus dipelajari, karena dengan jalan
tersebut barulah akan dapat diperoleh suatu generalisasi.
Beberapa sosiolog
berpendapat bahwa ada kondisi-kondisi sosial premier yang menyebabkan
terjadinya perubahan. Misalnya, kondisi-kondisi ekonomis, teknologis,
geografis, atau biologis menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan pada
aspek-aspek kehidupan sosial lainnya (William
F. Ogburn menekankan pada kondisi teknologis). Sebaliknya ada pula yang
mengatakan bahwa semua kondisi tersebut sama pentingnya, satu atau semua akan
menghasilkan perubahan-perubahan sosial. Untuk mendapatkan hasil sebagaimana
diharapkan, hubungan antara kondisi dan faktor-faktor tersebut harus diteliti
terlebih dahulu. Penelitian yang obyektif akan dapat memberikan hukum-hukum
umum perubahan sosial dan kebudayaan, disamping itu juga harus diperhatikan
waktu serta tempatnya perubahan-perubahan tersebut berlangsung.
C. HUBUNGAN ANTARA PERUBAHAN SOSIAL
DAN PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Perubahan
sosial tidak terlepas dari perubahan kebudayaan. Kingsley Davis mengatakan
bahwa, “perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan”. Teori
perubahan sosial dan budaya Karl Marx yang merumuskan bahwa perubahan sosial
dan budaya sebagai produk dari sebuah produksi (materialism), sedangkan Max
Weber lebih pada sistem gagasan, sistem pengetahuan, sistem kepercayaan yang
justru menjadi sebab perubahan. Perubahan sosial dan kebudayaan mempunyai satu
aspek yang sama, yaitu berhubungan dengan suatu penerimaan cara-cara baru atau
perbaikan didalam masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Hubungan antara
perubahan sosial dan perubahan kebudayaan sangat erat.
Meskipun
dalam kenyataan dapat kita lihat bahwa perubahan kebudayaan tidak selamanya
diikuti oleh perubahan sosial. Namun sukar untuk menentukan garis pemisah
antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan, dan sulit dibayangkan jika
terjadinya perubahan sosial tanpa didahului oleh suatu perubahan kebudayaan.
Walaupun perubahan sosial dibedakan dari perubahan kebudayaan, tetapi
pembahasan-pembahasan, mengenai perubahan sosial tidak akan mencapai suatu
pengertian yang benar jika tidak mengaitkannya dengan perubahan kebudayaan yang
terwujud dalam masyarakat yang bersangkutan. Hal yang sama juga berlaku dalam
pembahasan-pembahasan mengenai perubahan kebudayaan.
Akibat
perubahan sosial tanpa dibarengi perubahan kebudayaan :
1.
Timbulnya masalah sosial
2.
Timbulnya perubahan sikap hidup
3.
Timbulnya krisis masyarakat
Perubahan
sosial melekat pada diri suatu masyarakat dengan kebudayaan, karena untuk :
a.
Menghadapi masalah-masalah baru.
b.
Ketergantungan pada hubungan antarwarga
pewaris.
c.
Lingkungan yang berubah
Contoh : masyarakat desa yang tadinya memiliki rasa
solidaritas tinggi terhadap lingkungan seperti rajin gotong royong sekarang
nilai-nilai itu telah hilang, mereka menggantikan keberadaan mereka saat gotong
royong dengan uang.
Perubahan sosial dan
perubahan budaya mana yang lebih dulu terjadi
Antara
perubahan sosial dengan perubahan budaya saling berkaitan ketika perubahan
sosial itu ada, maka perubahan budaya juga ada dan begitu sebaliknya. Ruang
lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Namun
dalam praktek di lapangan kedua jenis perubahan tersebut sangat sulit untuk
dipisahkan (Soekanto, 1990). Perubahan kebudayaan bertitik tolak dan timbul
dari organisasi sosial. Pendapat tersebut dikembalikan pada pengertian
masyarakat dan kebudayaan. Masyarakat adalah sistem hubungan dalam arti
hubungan antar organisasi dan bukan hubungan antar sel. Kebudayaan mencakup
segenap cara berfikir dan bertingkah laku, yang timbul karena interaksi yang
bersifat komunikatif seperti menyampaikan buah pikiran secara simbolik dan
bukan warisan karena keturunan (Davis, 1960). Apabila diambil definisi
kebudayaan menurut Taylor dalam Soekanto (1990), kebudayaan merupakan kompleks
yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat
dan setiap kemampuan serta kebiasaan manusia sebagai warga masyarakat.
Soemardjan (1982), mengemukan bahwa perubahan sosial dan perubahan kebudayaan
mempunyai aspek yang sama yaitu keduanya berhubungan dengan suatu cara
penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam masyarakat untuk memenuhi
kebutuhannya. Jadi tidak ada yang lebih dahulu ada atau muncul antara perubahan
sosial dengan perubahan budaya. Keduanya muncul bersamaan, karena diantara
keduanya tidak bisa dipisahkan dan saling ketergantungan.
Contoh
: ketika teknologi semakin maju, banyak masyarakat menggunakan HP. Perubahan
sosial terjadi karena globalisasi, maka perubahan kebudayaan juga terjadi dari
menggunakan surat untuk berkomunikasi jarak jauh, kini menggunakan HP.
D.
BENTUK-BENTUK
PERUBAHAN SOSIAL
Bentuk-bentuk Perubahan Sosial Budaya.
Perubahan sosial budaya yang terjadi di dalam masyarakat sangat beragam. Secara
umum, bentuk-bentuk perubahan sosial budaya dapat dibedakan sebagai berikut.
1. Perubahan lambat dan perubahan
cepat
a.
Berdasarkan
Perubahan lambat
1)
Evolusi
Evolusi
adalah perubahan yang sangat lambat. Evolusi memerlukan waktu yang lama, di
mana terdapat suatu rentetan perubahan-perubahan kecil yang saling mengikuti
dengan lambat. Pada evolusi, perubahan-perubahan terjadi dengan sendirinya,
tanpa suatu rencana ataupun suatu kehendak tertentu. Perubahan-perubahan
tersebut terjadi oleh karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri
dengan keperluan-keperluan, keadaan-keadaan dan kondisi kondisi baru, yang
timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Rentetan perubahan perubahan
tersebut, tidak perlu sejalan dengan rentetan peristiwa-peristiwa di dalam
sejarah masyarakat yang bersangkutan. Contoh perubahan sosial dari masyarakat
berburu menuju ke masyarakat meramu
Menurut
Soerjono Soekanto, terdapat tiga teori yang mengupas tentang evolusi, yaitu :
·
Unilinier Theories of Evolution :
menyatakan bahwa manusia dan masyarakat mengalami perkembangan sesuai dengan
tahap-tahap tertentu, dari yang sederhana menjadi kompleks dan sampai pada
tahap yang sempurna.
·
Universal Theories of Evolution :
menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap
tertentu yang tetap. Menurut teori ini, kebudayaan manusia telah mengikuti
suatu garis evolusi yang tertentu.
·
Multilined Theories of Evolution :
menekankan pada penelitian terhadap tahap perkembangan tertentu dalam evolusi
masyarakat. Misalnya, penelitian pada pengaruh perubahan sistem pencaharian
dari sistem berburu ke pertanian.
b.
Berdasarkan
perubahan cepat
2)
Revolusi
Revolusi
adalah perubahan yang sangat cepat dan tidak ada kehendak atau perencanaan
sebelumnya. Secara sosiologis perubahan revolusi diartikan sebagai
perubahan-perubahan sosial mengenai unsur-unsur kehidupan atau lembaga-lembaga
kemasyarakatan yang berlangsung relative cepat. Dalam revolusi, perubahan dapat
terjadi dengan direncanakan atau tidak direncanakan, dimana sering kali diawali
dengan ketegangan atau konflik dalam tubuh masyarakat yang bersangkutan. Revolusi
tidak dapat terjadi di setiap situasi dan kondisi masyarakat.
Secara
sosiologis, agar suatu revolusi dapat terjadi, harus dipenuhi syarat-syarat
tertentu, antara lain seperti berikut.
a)
Harus ada keinginan umum untuk mengadakan suatu perubahan. Masyarakat harus
memiliki perasaan tidak puas terhadap keadaan yang ada, dan tumbuh keinginan
untuk meraih perbaikan dengan perubahan keadaan tersebut.
b)
Harus ada seorang pemimpin atau sekelompok orang yang dianggap mampu memimpin
masyarakat tersebut.
c)
Pemimpin tersebut dapat menampung keinginan-keinginan masyarakat, kemudian
merumuskan serta menegaskan rasa tidak puas itu untuk dijadikan program dan
arah bagi geraknya masyarakat.
d)
Pemimpin tersebut harus dapat menunjukkan suatu tujuan pada masyarakat, artinya
tujuan tersebut sifatnya konkret dan dapat dilihat oleh masyarakat. Di samping
itu, diperlukan juga suatu tujuan yang abstrak, misalnya, perumusan sesuatu
ideology tertentu.
e) Harus ada “momentum” untuk melaksanakan
revolusi, yaitu waktu yang tepat untuk memulai gerakan revolusi. Apabila
“momentum” yang dipilih keliru, maka revolusi dapat gagal.
Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada
tanggal 17 Agustus 1945 merupakan contoh suatu revolusi yang “momentum”nya
sangat tepat. Pada waktu itu, perasaan tidak puas di kalangan bangsa Indonesia
telah mencapai puncaknya dan ada pemimpin pemimpin yang mampu menampung
keinginan-keinginan masyarakat sekaligus merumuskan tujuannya. Pada saat itu
bertepatan dengan kekalahan Jepang melawan Sekutu.
2. Perubahan Kecil dan Perubahan Besar
1)
Perubahan
yang Kecil Pengaruhnya
Perubahan
ini berkaitan dengan perubahan pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak
membawa pengaruh langsung atau pengaruh yang berarti bagi masyarakat. Suatu
perubahan dalam mode pakaian, misalnya, tak akan membawa pengaruh yang berarti
bagi masyarakat secara keseluruhan karena tidak mengakibatkan perubahan dalam
lembagalembaga kemasyarakatannya.
2)
Perubahan-Perubahan
yang Besar pengaruhnya
Perubahan
ini membawa pengaruh langsung atau menimbulkan pengaruh yang berarti bagi
masyarakat. Sebagai contoh, suatu proses industrialisasi pada masyarakat
agraris, merupakan perubahan yang akan membawa pengaruh besar pada masyarakat.
Berbagai lembaga-lembaga kemasyarakatan akan terpengaruh olehnya seperti dalam
hal hubungan kerja, sistem kepemilikan tanah, hubungan-hubungan kekeluargaan,
stratifikasi masyarakat, dan seterusnya.
3. Perubahan yang Dikehendaki
(Intented-Change) atau Perubahan yang Direncanakan (Planned-Change) dan
Perubahan yang Tidak Dikehendaki (Unintented-Change) atau Perubahan yang Tidak
Direncanakan (Unplanned-Change).
1)
Perubahan
yang Dikehendaki (Intended-Change) atau Perubahan yang Direncanakan
(Planned-Change)
Perubahan
yang dikehendaki sudah diperkirakan atau direncanakan terlebih dahulu oleh
pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam masyarakat. Pihak-pihak
yang menghendaki perubahan dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau
sekelompok orang yang mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai pemimpin
satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan. Agent of change memimpin
masyarakat dalam mengubah sistem sosial.
Dalam
melaksanakan hal itu agent of change langsung tersangkut dalam tekanan tekanan
untuk mengadakan perubahan, bahkan mungkin menyebabkan perubahan perubahan pula
pada lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya. Suatu perubahan yang dikehendaki
atau yang direncanakan, selalu berada di bawah pengendalian serta pengawasan
agent of change tersebut. Cara-cara untuk mempengaruhi masyarakat dengan sistem
yang teratur dan direncanakan terlebih dahulu dinamakan social engineering atau
sering pula dinamakan social planning.
2)
Perubahan-Perubahan
Sosial yang Tidak Dikehendaki (Unintended-Change) atau Perubahan yang Tidak
Direncanakan (Unplanned-Change)
Perubahan
ini terjadi tanpa dikehendaki serta berlangsung di luar jangkauan pengawasan
masyarakat dan dapat menimbulkan akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan
oleh masyarakat seperti membawa masalah-masalah yang memicu kekacauan atau
kendala-kendala dalam masyarakat. Oleh karenanya, perubahan yang tidak
dikehendaki sangat sulit ditebak kapan akan terjadi. Misalnya, kasusu banjir
bandang di sinjai, Kalimatan Barat. Timbulnya banjir dikarenakan pembukaan
lahan yang kurang memerhatikan kelestarian lingkungan. Sebagai akibatnya,
banyak perkampungan dan pemukiman masyarakat terendam air yang mengharuskan
para warganya mencari pemukiman baru.
E. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN
PERUBAHAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN
a.
Sebab-sebab
yang bersumber dalam masyarakat itu sendiri
1. Bertambah atau berkurangnya
penduduk
Pertambahan penduduk yang sangat cepat di pulau Jawa
menyebabkan terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat, terutama
lembaga-lembaga kemasyarakatannya. Missal, orang lantas mengenal hak milik
individual atas tanah, sewa tanah, gadai tanah, bagi hasil dan selanjutnya,
yang sebelumnya tidak dikenal.
Berkurangnya penduduk mungkin disebabkan
berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dari daerah ke daerah lain
(misalnya transmigrasi). Perpindahan penduduk mengakibatkan kekosongan,
misalnya, dalam bidang pembagian kerja dan stratifikasi sosial, yang
memengaruhi lembaga-lembaga kemasyarakatan. Perpindahan penduduk telah
berlangsung berates-ratus ribu tahun lamanya di dunia ini. Hal itu sejajar
dengan bertambahnya banyaknya manusia penduduk bumi ini.
2. Penemuan-penemuan baru
Suatu proses
sosial dan kebudayaan yang besar, tetapi terjadi dalam waktu yang tidak terlalu
lama adalah inovasi. Proses tersebut meliputi suatu penemuan baru, jalannya
unsur-unsur kebudayaan baru yang tersebar ke lain-lain bagian masyarakat, dan
cara-cara unsur kebudayaan baru tadi diterima, dipelajari dan akhirnya dipakai
dalam masyarakat yang bersangkutan. Penemuan baru sebagai akibat terjadinya
perubahan-perubahan dapat dibedakan dalam pengertian dari discovery dan
invention.
Discovery adalah penemuan unsur kebudayaan yang
baru, baik berupa alasan atau gagasan yang diciptakan oleh seorang individu.
Discovery baru berubah menjadi invention kalau masyarakat sudah mengakui,
menerima dan menerapkan penemuan baru itu.
Apabila ditelaah lebih lanjut agi tentang penemuan
baru, terlihat ada beberapa faktor pendorong yang dipunyai masyarakat, antara
lain adalah :
a.
Kesadaran individu-individu akan
kekurangan dalam kebudayaannya.
b.
Kualitas ahli-ahli dalam suatu
kebudayaan.
c.
Perangsang bagi aktivitas-aktivitas
penciptaan dalam masyarakat.
Didalam setiap masyarakat tentu ada individu yang
sadar akan adanya kekurangan dalam kebudayaan masyarakatnya. Sebagian orang
menerima kekurangan-kekurangan tersebut sebagai hal yang diterima begitu saja.
Sebagian orang yang tidak puas dengan keadaan akan tetapi tidak mampu
memperbaiki keadaan tersebut. Mereka inilah yang kemudian menjadi
pencipta-pencipta baru tersebut.
3. Pertentangan-pertentangan dalam
masyarakat
Pertentangan-pertentangan mungkin terjadi antara
individu-kelompok, kelompok-kelompok. Pada umumnya masyarakat tradisional di Indonesia
bersifat kolektif. Segala kegiatan didasarkan pada kepentingan masyarakat.
Kepentingan individu walaupun diakui tapi mempunyai fungsi sosial. Banyak
timbul pertentangan antara kepentingan individu dengan kelompoknya, yang dalam
hal-hal tertentu dapat menimbulkan perubahan-perubahan.
Pertentangan antar kelompok mungkin terjadi pada
generasi muda dengan generasi tua. Pertentangan-pertentangan demikian itu kerap
terjadi, apabila pada masyarakat yang sedang berkembang dari tahap tradisional
menuju ketahap modern. Generasi muda yang belum terbentuk kepribadiannya lebih
mudah menerima dalam beberapa hal mempunyai taraf yang lebih tinggi. Keadaan
demikian dapat menimbulkan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Misalnya,
pergaulan bebas antara wanita dengan laki-laki, cara berpakaian, atau derajat
wanita yang kian sama di dalam masyarakat dan lain-lain.
4. Terjadinya pemberontakan atau
revolusi
Revolusi yang meletus pada Oktober 1917 di Rusia
telah menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar Negara Rusia yang mula-mula
mempunyai bnetuk kerajaan absolut berubah menjadi diktator proletariat yang
dilandaskan pada doktrin Marxis. Segenap lembaga kemasyarakatan mulai dari
bentuk Negara sampai keluarga batih, mengalami perubahan-perubahan yang
mendasar.
b.
Sebab-sebab
yang berasal dari luar masyarakat
1. Sebab-sebab yang berasal dari
lingkungan fisik yang ada di sekitar manusia
Terjadinya gempa bumi, banjir, tanah longsor dan
lain-lain mungkin menyebabkan masyarakatnya terpaksa harus meninggalkan tempat
tinggalnya. Missal, pada waktu dulu masyarakat dulu berburu kini berpindah ke
pertanian.
Sebab yang bersumber pada lingkungan alam,
kadang-kadang disebabkan oleh tindakan manusia itu sendiri. Misalnya,
penggunaan tanah yang sembrono tanpa memperhitungkan kelestarian humus tanah,
penebangan hutan yang liar dapat menyebabkan banjir.
2. Peperangan
Peperangan dengan Negara lain dapat pula menyebabkan
terjadinya perubahan-perubahan karena biasanya Negara yang menang akan
memaksakan kebudayaannya pada Negara yang kalah. Contohnya adalah Negara-negara
yang kalah dalam Perang Dunia Kedua banyak sekali mengalami perubahan dalam
lembaga kemasyarakatannya. Negara-negara yang kalah dalam Perang Dunia Kedua
seperti Jerman dan Jepang mengalami perubahan-perubahan besar dalam masyarakat.
3. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain
Apabila sebab-sebab bersumber pada masyarakat lain,
maka mungkin kebudayaan lain melancarkan pengaruhnya. Hubungan secara fisik
antara dua masyarakat mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan hubungan
timbal-balik, artinya masing-masing masyarakat lainnya, tetapi juga menerima
pengaruhnya dari masyarakat yang lain itu. Apabila salah satu kebudayaan yang
bertemu mempunyai taraf teknologi yang lebih maka yang terjadi adalah proses
imitasi yaitu peniruan terhadap budaya lain. Mula-mula unsur-unsur tersebut
ditambahkan kebudayaan asli namun lambat laun kebudayaan asli diubah dengan
kebudayaan asing tersebut.
F. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
JALANNYA PROSES PERUBAHAN
Perubahan sosial budaya dipengaruhi oleh
berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi itu terdiri dari faktor
pendorong dan penghambat yang dapat berasal dari dalam maupun luar masyarakat.
Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan sosial dan budaya
dalam masyarakat.
a.
Faktor-faktor
yang mendorong jalannya perubahan
1. Kontak dengan kebudayaan lain
Perubahan sosial dan budaya akan berjalan dengan
cepat apabila masyarakat sering melakukan kontak dengan kebudayaan lain. Salah
satu proses yang mempercepat kontak dengan kebudayaan lain adalah proses
difusi. Dengan terjadinya difusi, suatu penemuan baru yang telah diterima oleh
masyarakat dapat diteruskan dan disebarkan pada masyarakat luas sampai semua
masyarakat dapat menikmati kegunaannya. Selain difusi, proses yang mempercepat
kontak sosial juga dapat terjadi karena akulturasi, namun akulturasi bersifat
continue dan memerlukan hubungan dekat.
2. Sistem pendidikan yang maju
Pendidikan formal sangat penting, karena dengan
pendidikan formal masyarakat akan mendapatkan nilai-nilai tertentu untuk menerima
hal-hal baru dan berpikir lebih rasional dan ilmiah serta cara pandang terhadap
masalah yang lebih obyektif.
3. Sikap menghargai hasil karya
seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju
Apabila sikap tersebut melembaga dalam masyarakat,
masyarakat merupakan pendorong bagi usaha-usaha penemuan baru. Hadiah Nobel,
misalnya, merupakan pendorong untuk menciptakan hasil-hasil karya yang baru. Di
Indonesia juga dikenal sistem penghargaan yang tertentu, walaupun masih dalam
arti yang snagat terbatas dan belum merata.
4. Toleransi terhadap
perbuatan-perbuatan menyimpang
Masyarakat yang memiliki sikap toleransi cenderung
akan mudah menerima hal-hal yang baru, sehingga proses perubahan sosial budaya
akan berjalan lebih cepat karena masyarakat sangat toleran dengan perilaku
menyimpang. Dalam hal ini dapat berupa penyimpangan positif maupun negatif.
Contoh
: dahulu pekerjaan sopir hanya dilakukan oleh seorang laki-laki, namun sekarang
ini masyarakat tidak merasa risih apabila perempuan bekerja sebagai sopir.
5. Sistem lapisan masyarakat yang
terbuka
Dengan sistem stratifikasi terbuka maka hal itu akan
memberikan kesempatan adanya gerak sosial vertical dan peluang yang luas bagi
individu untuk meningkatkan diri untuk maju dan berusaha menaikkan status
sosial dalam masyarakat.
Contoh
: seorang anak yang terlahir dari keluarga petani miskin, dengan kemampuan
secara akademis anak itu mendapatkan pekerjaan yang bagus. Dengan begitu anak
itu mampu menaikkan status sosial dirinya dan keluarganya.
6. Penduduk yang heterogen
Dalam masyarakat heterogen yang memiliki latar
kebudayaan, ras dan ideologi yang berbeda akan mudah dan sering terjadi
pertentangan yang akan memicu terjadinya perubahan tersebut.
Contoh
: masyarakat di perkotaan di dalamnya terdapat masyarakat yang berbeda-beda
kebudayaan. Misalnya : Suku Batak, Jawa, Bugis, dsb. Dengan keadaan itu
masyarakat sering berinteraksi dan memungkinkan terjadi perubahan.
7. Ketidakpuasan masyarakat terhadap
bidang-bidang kehidupan tertentu
Ketidakpuasan ini baik dalam sistem kemasyarakatan,
ekonomi dan keamanan akan mendorong masyarakat melakukan perubahan sistem yang
ada dengan cara menciptakan sistem baru agar sesuai dengan kebutuhan.
Contoh
: masyarakat tidak puas dengan kebijakan ekonomi dari pemerintah, kemudian
masyarakat menyampaikan aspirasi terhadap pemerintah melalui DPR.
8. Orientasi kedepan
Seseorang dalam masyarakat pada umumnya beranggapan
bahwa masa yang akan datang berbeda dengan masa sekarang sehingga masyarakat
berusaha menyesuaikan diri baik yang sesuai keinginannya. Untuk itu masyarakat
umumnya berusaha melakukan perubahan-perubahan agar dapat menerima masa depan.
Contoh
: sekarang ini masyarakat harus berusaha memperbaiki keadaan ekonomi karena
untuk menghadapi krisisglobal.
9. Nilai meningkatkan taraf hidup
Nilai bahwa manusia harus senantiasa berikhtiar
untuk memperbaiki hidupnya.
b.
Faktor-faktor
yang menghambat terjadinya perubahan
1. Kurangnya berhubungan dengan
masyarakat-masyarakat lain
Kehidupan terasing menyebabkan sebuah masyarakat
tidak mengetahui perkembangan-perkembangan apa yang terjadi pada masyarakat
lain yang mungkin akan dapat memperkaya kebudayaannya sendiri. Hal itu juga
menyebabkan para warga masyarakat terkungkung pola-pola pemikirannya oleh
tradisi.
Contoh
: masyarakat suku pedalaman akan sulit mengetahui perkembangan-perkembangan
yang terjadi pada masyarakat lain karena kurang dan sulit berkomunikasi.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang
terlambat
Hal ini mungkin disebabkan hidup masyarakat tersebut
terasing dan tertutup atau mungkin karena lama dijajah oleh masyarakat lain.
Contoh
: masyarakat kelas bawah sulit mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga
pemikirannya kurang terbuka.
3. Sikap masyarakat yang
tradisionalistis
Suatu sikap yang mengagung-agungkan tradisi dan masa
lampau serta anggapan bahwa tradisi secara mutlak tak dapat diubah menghambat
jalannya proses perubahan. Keadaan tersebut akan menjadi lebih parah apabila
masyarakat yang bersangkutan dikuasai oleh golongan konservatif.
Contoh
: di zaman modern ini masih banyak masyarakat yang mengkaitkan keadaan alam
dengan hal-hal yang irasional, walaupun sebenarnya fenomena alam itu dijelaskan
secara ilmiah.
4. Adanya kepentingan-kepentingan yang
telah tertanam dengan kuat
Dalam setiap organisasi sosial yang mengenal sistem
lapisan, pasti aka nada sekelompok orang yang menikmati kedudukan
perubahan-perubahan. Misalnya dalam masyarakat feodal dan juga pada masyarakat
yang sedang mengalami tradisi. Dalam hal yang terakhir, ada golongan-golongan
dalam masyarakat yang dianggap sebagai pelopor proses transisi. Karena selalu
mengidentifikasi diri dengan usaha-usaha dan jasa-jasanya, sukar sekali bagi
mereka untuk melepaskan kedudukannya di dalam suatu proses perubahan.
5. Rasa takut akan terjadinya
kegoyahan pada integrasi kebudayaan
Memang harus diakui kalau tidak mungkin integrasi
semua unsur suatu kebudayaan bersifat sempurna. Beberapa perkelompokan
unsur-unsur tertentu mempunyai derajat integrasi tinggi. Maksudnya unsur-unsur
luar dikhawatirkan akan menggoyahkan integrasi dan menyebabkan
perubahan-perubahan pada aspek-aspek tertentu masyarakat.
6. Prasangka terhadap sesuatu yang baru/asing
Sikap yang demikian banyak dijumpai pada
masyarakat-masyarakat yang pernah dijajah bangsa-bangsa barat. Mereka sangat
mencurigai sesuatu yang berasal dari barat karena tidak pernah bisa melupakan
pengalaman-pengalaman pahit selama penjajahan. Kebetulan unsur-unsur baru
kebanyakan berasal dari barat, sehingga prasangka kian besar lantaran khawatir
bahwa melalui unsur-unsur tesebut penjajahan bisa masuk lagi.
Contoh
: sebagian masyarakat masih mempunyai anggapan bahwa munculnya internet adalah
salah satu bentuk penjajahan bangsa barat melalui media elektronik.
7. Hambatan ideologis
Setiap usaha perubahan pada unsur-unsur kebudayaan
rohaniah biasanya diartikan sebagai usaha yang berlawanan dengan ideology
masyarakat yang sudah menjadi dasar integrasi masyarakat tersebut.
Contoh
: masyarakat Minang menganut matrialisme, maka masyarakat akan sulit menerima
ideologi baru bahwa derajatnya lebih tinggi.
8. Kebiasaan
Adat atau kebiasaan merupakan pola-pola perilaku
bagi anggota masyarakat di dalam memenuhi segala kebutuhan pokoknya apabila
kemudian ternyata pola-pola perilaku tersebut efektif lagi di dalam memenuhi
kebutuhan pokok, krisis akan muncul. Mungkin adat atau kebiasaan yang mencakup
bidang kepercayaan, sistem mata pencaharian, pembuatan rumah, cara berpakaian
tertentu, begitu kokoh sehingga sukar untuk diubah.
Contoh
: seorang ibu yang hidup dalam masyarakat desa telah terbiasa menumbuk pada
secara manual, walaupun sekarang telah ada adat yang lebih efisien namun
kebanyakan masyarakat enggan menggunakannya.
9. Nilai pasrah
Nilai bahwa hidup ini pada hakikatnya buruk dan
tidak mungkin diperbaiki.
G. PROSES-PROSES PERUBAHAN SOSIAL DAN
KEBUDAYAAN
1.
Penyesuaian
masyarakat terhadap perubahan
Keserasian atau harmoni dalam
masyarakat (social equilibrium) merupakan keadaan yang diidam-idamkan setiap
masyarakat. Dengan keserasian masyarakat dimaksudkan sebagai suatu keadaan
dimana lembaga-lembaga kemasyarakatan yang pokok benar-benar berfungsi dan
saling mengisi. Dalam keadaan demikian, individu secara psikologis merasakan
adanya ketentraman, karena tidak adanya pertentangan dalam norma-norma dan
nilai-nilai. Setiap kali terjadi gangguan terhadap keadaan keserasian, maka
masyarakat dapat menolaknya atau mengubah susunan lembaga-lembaga
kemasyarakatannya dengan maksud menerima unsur yang baru. Akan tetapi, kadang
kala unsur yang baru dipaksakan masuknya oleh suatu kekuatan. Apabila
masyarakat tidak dapat menolaknya karena unsur baru tersebut tidak menimbulkan
kegoncangan, pengaruhnya tetap ada, akan tetapi sikapnya dangkal dan hanya
terbatas pada bentuk luarnya. Norma-norma dan nilai-nilai sosial tidak dapat
berfungsi secara wajar.
Adakalanya unsur-unsur baru dan
lama yang bertentangan secara bersamaan mempengaruhi norma-norma dan
nilai-nilai yang kemudian berpengaruh pula pada warga masyarakat. Itu berarti
adanya gangguan yang kontinu terhadap keserasian masyarakat. Keadaan tersebut
berarti bahwa ketegangan-ketegangan serta kekecewaan diantara pada warga tidak
mempunyai saluran pemecahan. Apabila ketidakserasian dapat dipulihkan kembali
setelah terjadi suatu perubahan, maka keadaan tersebut dinamakan penyesuaian
(adjustment) bila sebaliknya yang terjadi maka dinamakan ketidak penyesuaian
sosial (maladjustment) yang mungkin mengakibatkan terjadinya anomie.
Suatu perbedaan dapat diadakan
antara penyesuaian dari lembaga-lembaga kemasyarakatan dan penyesuaian dan
individu yang ada dalam masyarakat tersebut. Yang pertama menunjuk pada
keadaan, dimana masyarakat berhasil menyesuaikan lembaga-lembaga kemasyarakatan
dengan keadaan yang mengalami perubahan sosial dan kebudayaan. Sedangkan yang
kedua menunjuk pada usaha-usaha individu untuk menyesuaikan diri dengan
lembaga-lembaga kemasyarakatan yang telah diubah atau diganti, agar terhindar
dari disorganisasi psikologis. Di minangkabau misalnya dimana menurut tradisi
wanita mempunyai kedudukan penting karena garis keturunan yang matrialineal,
terlihat adanya suatu kecenderungan dimana hubungan antara anggota keluarga
batih lebih erat. Hubungan antara anak-anak dengan ayahnya yang semula dianggap
tidak mempunyai kekuasaan apa-apa terhadap anak-anak sebab ayah dianggap
sebagai orang luar cenderung menguat.
2.
Saluran-saluran
perubahan sosial dan kebudayaan
Saluran-saluran perubahan sosial
dan kebudayaan merupakan saluran-saluran yang dilalui oleh suatu proses
perubahan. Umumnya saluran-saluran tersebut adalah lembaga-lembaga
kemasyarakatan dalam bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan, agama, rekreasi
dan seterusnya. Lembaga-lembaga kemasyarakatan menjadi titik tolak, tergantung
pada cultural focus masyarakat pada suatu masa yang tertentu. Dengan singkat
dapatlah dikatakan bahwa saluran tersebut berfungsi agar sesuatu perubahan
dikenal, diterima, diakui serta dipergunakan oleh khalayak ramai, atau dengan
singkat mengalami proses institutionalization (pelembagaan)
3.
Disorganisasi
(disintegrasi) dan reorganisasi (reintegrasi)
a. Pengertian
Disorganisasi adalah suatu keadaan dimana tidak ada
keserasian pada bagian-bagian dari suatu kebulatan, misalnya masyarakat agar
dapat berfungsi sebagai organisasi, harus ada keserasian antar
bagian-bagiannya. kriteria terjadinya disorganisasi antara lain terletak pada
persoalan apakah organisasi tersebut berfungsi secara semestinya atau tidak
baik, masalah lain yang sering timbul adalah disorganisasi dalam masyarakat
acapkali dihubungkan dengan moral yaitu anggapan-anggapan tentang apa yang baik
dan apa yang buruk.
Suatu
disorganisasi atau disintegrasi mungkin dapat dirumuskan sebagai suatu proses
berpudarnya norma-norma dan nilai-nilai dalam masyarakat, karena
perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan.
Reorganisasi
atau reintegrasi adalah suatu proses pembentukan norma-norma dan nilai-nilai
baru agar serasi dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang telah mengalami
perubahan.
Tahap
reorgansasi dilaksanakan apabila norma-norma dan nilai-nilai yang baru telah
melembaga (institutionalized) dalam diri warga masyarakat. Berhasil tidaknya
proses pelembagaan (institutionalization) = (efektivitas menanam) – (kekuatan
menentang masyarakat).
b. Suatu gambaran mengenai
disorganasasi dan reorganisasi
Suatu
contoh adalah norma-norma dalam lalu lintas. Sopan santun berlalu lintas yang
secara minimal menyangkut ketaatan seseorang pengemudi atau orang yang jalan
kaki. Pada umumnya terlihat adanya suatu kecenderungan untuk melanggar
peraturan-peraturan tersebut, padahal peraturan bertujuan untuk menjaga
keselamatan masyarakat, termasuk pengemudi dan orang-orang yang berjalan kaki.
Hal ni paling tidak dapat dijadikan suatu indeks terhadap keadaan sampai dimana
disorganisasi masih berlangsung padahal telah ada reorganisasi.
c. Ketidakserasian perubahan-perubahan
dan ketertinggalan budaya (cultural lag)
Ada
unsur-unsur yang cepat berubah, tetapi ada pula unsur-unsur yang sukar untuk
berubah. Biasanya unsure-unsur kebudayaan kebendaan lebih mudah berubah
daripada unsure-unsurkebudayaan rohaniah. Misalnya, suatu perubahan dalam cara
bertani, tidak berpengaruh pada tarian-tarian tradisional.
Suatu
teori tentang ketertinggalan budaya (cultural lag) dari William F. Ogburn,
menyatakan kenyataan bahwa pertumbuhan kebudayaan tidak selalu sama cepatnya
dalam keseluruhannya seperti diurai sebelumnya, sedangkan ada bagian lain yang
tumbuhnya lambat. Perbedaan antara taraf kemajuan dari berbagai bagian dalam
kebudayaan dari suatu masyarakat dinamakan ketertinggalan kebudayaan (cultural
lag) dan unsur masyarakat korelasi, tidak sebanding sehingga unsur yang satu
tertinggal oleh unsur lainnya.
Ketertinggalan
kebudayaan juga berarti sebagai jangka waktu antara terjadi dan diterimanya
penemuan baru. Atau dipakai untuk menunjukkan pada tertinggalnya suatu unsur
lainnya yang berkaitan erat hubungannya.
H. ARAH PERUBAHAN (Direction of
Change)
Gerak perubahan
adalah perubahan bergerak meninggalkan faktor yang diubah. Akan tetapi, setelah
meninggalkan faktor itu, mungkin perubahan bergerak kepada sesuatu bentuk yang
sama sekali baru, atau mungkin pula bergerak kea rah suatu bentuk yang sudah
ada didalam waktu lampau.
Sebagai contoh,
perkembangan industry music saat ini mengalami kemajuan yang luar biasa. Banyak
jenis-jenis aliran music yang kita kenal, mulai dari pop, rock, jazz, dangdu,
heavy metal, ska, hip-hop, punk, dll. Tapi saat ini ada jenis music baru yang
sedang trend di kalangan anak muda Indonesia yaitu The Changcuter. Lagu mereka
berjenis rock n’roll yang pernah dipopulerkan Rolling Stone dan mengikuti aksi
panggung Mick Jagger dan Jim Morrisson. Akan tetapi lagu mereka rata-rata
bertema komedi. Hal tersebut tentu berbeda dengan generasi sebelum mereka yang
biasanya bertema sosial dan cinta.
I.
MODERNISASI
1. Pengantar
Secara historis, modernisasi merupakan suatu proses
perubahan yang menuju pada tipe sistem-sistem sosial, ekonomi, dan politik.
Negara-negara atau masyarakat-masyarakat modern pun yang sedang menjalani
proses tersebut telah berkembang dari aneka warna masyarakat tradisional.
Setiap Negara-negara atau masyarakat-masyarakat mengalami persoalan
berbeda-beda dalam menghadapi modernisasi sesuai dengan hukum situasi, pasti
ada unsur-unsur yang sama dan berlaku universal. Menyangkut Indonesia yang
mengalami modernisasi melalui perubahan-perubahan yang direncanakan. Misalnya
dari orde lama ke orde baru, orde baru ke zaman reformasi.
2. Pengertian
Modernisasi
Pengertian modernisasi mencakup suatu
transformasi total kehidupan bersama yang tradisional atau pra modern dalam
arti teknologi serta organisasi sosial, kearah pola-pola ekonomis dan politis
yang menjadi ciri negara-negara barat yang stabil.
Modernisasi
merupakan suatu bentuk perubahan sosial. Biasanya merupakan perubahan sosial
yang terarah yang didasarkan pada perencanaan. Modernisasi merupakan suatu
persoalan yang harus dihadapi masyarakat, karena di dalam prosesnya meliputi
bidang yang luas, menyangkut proses disorganisasi, problema-problema sosial,
konflik antar kelompok, hambatan-hambatan terhadap perubahan, dan sebagainya.
3.
Disorganisasi,
Transformasi, dan Proses Modernisasi
Di
dalam proses modernisasi akan muncul disorganisasi pada masyarakat. Hal
tersebut akan menjadi masalah-masalah sosial. Masalah sosial diartikan sebagai
penyimpangan terhadap norma-norma kemasyarakatan.
Disamping
itu, perlawanan terhadap transformasi misalnya keyakinan yang kuat terhadap
kebenaran tradisi, sikap yang tidak toleran terhadap penyimpangan-penyimpangan,
pendidikan dan perkembangan ilmiah yang tertinggal, merupakan faktor-faktor
yang menghambat modernisasi.
Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa yang berpengaruh pada modernisasi adalah sikap
dan nilai, kemampuan menunjukkan manfaat unsur yang baru, dan kesepadanannya
dengan unsur-unsur kebudayaan yang ada. Ada kemungkinan modernisasi
bertentangan dengan kebudayaan yang ada. Selain itu, ada kemungkinan
modernisasi menggantikan unsur-unsur yang lama.
4.
Syarat-syarat
modernisasi
Modernisasi
pada awalnya mengakibatkan disorganisasi pada masyarakat. Tetapi masyarakat
akan bisa reorganisasi jika modernisasi bersifat preventif (mencegah) dan
konstruktif (membangun).
Syarat-syarat
suatu modernisasi adalah sebagai berikut :
1. Cara
berpikir yang ilmiah yang berlembaga dalam kelas penguasa ataupun masyarakat.
2. Sistem
administrasi negara yang baik, yang benar-benar mewujudkan birokrasi.
3. Adanya
sistem pengumpulan data yang baik dan teratur yang terpusat pada suatu lembaga
atau badan tertentu.
4. Penciptaan
iklim yang favourable dari masyarakat terhadap modernisasi dengan cara
penggunaan alat-alat komunikasi massa.
5. Tingkat
organisasi yang tinggi yang di satu pihak berarti disiplin, sedangkan dilain
pihak berarti pengurangan kemerdekaan.
6. Sentralisasi
wewenang dalam pelaksanaan social planning
Apabila itu tidak dilakukan, perencanaan akan terpengaruh oleh
kekuatan-kekuatan dari kepentingan-kepentingan yang ingin mengubah perencanaan
tersebut demi kepentingan suatu golongan kecil dalam masyarakat.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari konsep teori dan pembahasan
yang telah disebutkan, dapat diambil kesimpulan bahwa perbahan-perubahan sosial
pada masyarakat juga membawa perubahan-perubahan pada kebudayaan. Berbagai
bentuk perubahan sosial dan kebudayaan disetiap tempat dan daerah tidak sama,
hal ini bisa dilihat dari kambat cepatnya perubahan, kecil besarnya perubahan
dan pihak-pihak yang menginginkan perubahan.
Banyak faktor yang bisa
mengakibatkan perubahan sosial dan kebudayaan kemudian mempengaruhi jalannya
proses perubahan tersebut. Setiap perubahan sosial dan kebudayaan pasti akan
menimbulkan disorganisasi, reorganisasi dan cultural lag. Dewasa ini sulit
menentukan kearah mana masyarakat berkembang. Salah satu jenis arah perubahan
adalah modernisasi. Modernisasi pada awalnya mengakibatkan disorganisasi pada
masyarakat. Tetapi masyarakat akan bisa reorganisasi jika modernisasi bersifat
preventif (mencegah) dan konstruktif (membangun).
Dari konsep teori dan pembahasan yang telah disebutkan, dapat diambil kesimpulan bahwa perbahan-perubahan sosial pada masyarakat juga membawa perubahan-perubahan pada kebudayaan. Berbagai bentuk perubahan sosial dan kebudayaan disetiap tempat dan daerah tidak sama, hal ini bisa dilihat dari kambat cepatnya perubahan, kecil besarnya perubahan dan pihak-pihak yang menginginkan perubahan.
BalasHapusBanyak faktor yang bisa mengakibatkan perubahan sosial dan kebudayaan kemudian mempengaruhi jalannya proses perubahan tersebut. Setiap perubahan sosial dan kebudayaan pasti akan menimbulkan disorganisasi, reorganisasi dan cultural lag. Dewasa ini sulit menentukan kearah mana masyarakat berkembang. Salah satu jenis arah perubahan adalah modernisasi. Modernisasi pada awalnya mengakibatkan disorganisasi pada masyarakat. Tetapi masyarakat akan bisa reorganisasi jika modernisasi bersifat preventif (mencegah) dan konstruktif (membangun).
bagus
BalasHapus